17/11/16

Idul qurban bersama keluarga teladan

MERAYAKANIdul Adha atau Idul Kurban bukan sekadar melaksanakan salat id, lalu dilanjutkan dengan penyembelihan hewan kurban berikut pendistribusiannya kepada yang berhak. Idul Kurban itu sarat makna, kaya simbol sosial keagamaan, dan penuh dengan nilai-nilai historis.Aneka pesan simbolik dan pelajaran historis yang membingkai syariat kurban itu perlu diaktualisasikan dan dikontekstualisasikan dalam kehidupan modern. Memaknai Idul Kurban idealnya dilakukan dengan meneladani keluarga Nabi Ibrahim AS. Ibadah kurban ini bermula dari perintahAllah SWT kepada Ibrahim AS, melalui mimpi, untuk ”menyembelih” anak kesayangannya, Ismail AS.Peristiwa dramatis di lembah Mina yang sepi nan sunyi itu terjadi sekitar 1.800 tahun sebelum Masehi. Peristiwaini kemudian dinapaktilasi jamaah haji dengan melempar tiga tugu jumrah, sebagai simbolisasi sikap melawan dan mengusir setan yang selalu menggoda dan menyesatkan umat manusia. Karena itu, Idul Kurban perlu dimaknai dalam konteks menjadikan keluarga Ibrahim AS sebagai keluarga teladan. Mengapa keluarga Ibrahim AS patut dijadikan sebagairole model?Dalam buku Madrasah al-Anbiya’: Ibar wa Adhwa’ (Sekolah Para Nabi: Pelajaran dan Inspirasi) karya Muhammad Bassam Rusydi (2001) ditegaskan bahwa keluarga Ibrahim AS merupakan keluarga ideal dari segi mental spiritual, intelektual, sosial, moral, dan kultural yang patut diteladani. Sekurang-kurangnya ada enam pelajaran profetik (kenabian) yang penting dijadikan sebagai teladan dalam mendidik dan membahagiakan keluarga, terutama keluarga bangsa.Pertama,keluarga teladan Ibrahim AS itu dibangun di atas fondasi tauhid yang kuat. Ibrahim AS tidak saja berjasa melakukan gerakan reformasi tauhid, tapi juga gigih memperjuangkanagama yang hanif (lurus dan benar). Yakni agama yang steril dari aneka kemusyrikan seperti syirik politik yang dikembangkan Raja Namrud saat itu. Termasuk syirik sosial kultural yang dipertahankan oleh ayahnya sendiri maupun masyarakatnya yang menyembah berhala dan benda-benda langit.Alquran mengisahkan bahwa Ibrahim AS secara terbuka berani melakukan kritik terhadap orang tuanya yang dianggap sesat karena menuhankan berhalaberhala buatannya sendiri.”Ingatlah ketika Ibrahim mengkritik ayahnya, Azar: ”Pantaskah engkau menjadikan berhala- berhala sebagai tuhan? Sungguh menurutku, engkau dan masyarakatmu telah berada dalamkesesatan” (QS al-An’am [6]: 74).Selain melakukan kritik teologis kepada ayah dan masyarakatnya, Ibrahim AS juga secara terbuka mengkritisi teologi sesat sang penguasa. Ketika Raja Namrud dan pejabat-pejabat politiknya berpesta pora di luar Kota Babilonia (di Irak sekarang), secara diamd-iam dan penuh keberanian Ibrahim AS menghancurkan berhala-berhala di pusat pemujaan mereka. Beliau hanya membiarkan berhala terbesar tetap bertengger sambil dikalungi kapak yangtelah digunakan untuk menghancurkan berhala-berhala lainnya.Begitu mengetahui tuhan-tuhan merekaporak-poranda, para penguasa marah. Muka mereka merah padam dan menuduh Ibrahim sebagai pelaku utamanya. Ibrahim pun ”diamankan” dan ”dimintai keterangan” oleh rezim penguasa. ”Apakah kamu, hai Ibrahim, pelaku perusakan ini? Tanya mereka. Ibrahim pun menjawab secara logis:”(Bukankah) sebenarnya patung yang terbesar itu yang telah melakukannya. (Jangan tanya saya!) Tanyakanlah kepada berhala itu, siapa tahu mereka dapat memberimu keterangan!” (QS al- Anbiya’ [21]: 62-63).Rezim penguasa ternyata tak berkutik menghadapi logika tauhid Ibrahim yangsangat kokoh dan sulit didebat. Namun, karena kekejian sang penguasa yang takut kekuasaannya ditumbangkan, Ibrahim akhirnya harus menerima hukuman bakar hidup-hidup di atas api unggun. Kisah ini menarik karena ternyata ”api penguasa” tidak sedikit pun mampu ”membakar tubuh” Ibrahim yang penuh spirit tauhid.

Bagikan

Jangan lewatkan

Idul qurban bersama keluarga teladan
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.