17/11/16

Tata ulang bisnis hewan kurban

IDULAdha baru saja berlalu. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kali ini tidak ada lagi berita kejadian manusia terinjak-injak dan terluka atau meninggal antre daging kurban. Manajemen kurban kian membaik.Namun, perbaikan itu belum menyentuh masalah dasar: bisnis hewan kurban. Bisnis hewan kurban amat menarik. Keuntungannya selangit.Karena itu, momentum Idul Adha setahun sekali selalu dinanti-nantikan banyak pihak: peternak (sapi/kerbau/ kambing/domba), belantik, pedagang perantara dan musiman. Galibnya dalam komoditas pangan, distribusi keuntungan bisnis hewan kurban tidak adil.Porsi keuntungan terbesar dinikmati pedagang (perantara dan musiman), belantik, dan penjagal, bukan peternak. Ini terkait mata rantai pasokan ternak yang panjang dari peternak ke konsumen sehingga transparansi harga, cara bayar, kualitas, dan risiko usaha tak diketahui peternak. Pendek kata, sistem distribusi hewan kurban masih jauh dari efisien.Ada tiga tujuan distribusi: memaksimalkan akses konsumen atas komoditas, mampu menyampaikan hasil-hasil dari produsen ke konsumen dengan biaya distribusi minimal, dan mengupayakan pembagian yang adil dari keseluruhan harga yang dibayarkan konsumen akhir kepada semua pihak yang terlibat kegiatan produksi dan distribusi barang sesuai peranan masing-masing.Sistem distribusi dinilai efisien dan efektif bila memenuhi tiga syarat itu. Inefisiensi dan inefektivitas dalam bisnis hewan kurban dipastikan jauh dari memadai. Ini semua tidak bisa dilepaskan dari karakteristik bisnis hewan kurban. Pertama, konsumen hewan kurban umumnya orang awam. Mereka tidak memiliki ”ilmu” menaksir berat badan dan karkas (daging) ternakhidup.Sebaliknya, ilmu taksirmenaksir menjadi makanan sehari- hari para penjagal, belantik, dan pedagang. Keawaman konsumen ini mudah di-”eksploitasi” oleh penjual. Bentuknyamacam-macam, yang paling sering tentu eksploitasi harga. Kedua, bisnis hewan kurban tidak mengenal hukumsupply demand. Penjual akan menawarkan harga hewan kurban setinggi- tingginya kepada pembeli.Penjual sadar para pembeli selain”awam”, mereka ”orang-orang mampu” dan berdaya beli tinggi. Hampir pasti konsumen membeli, tidak mungkin menangguhkan berkurban tahun depan.Jika harga tidak terjangkau, konsumen akan mengalihkannya kepada ternak yang lebih murah. Selain itu, transaksi jual-beli hewan kurban terjadi dalam kurun waktu pendek. Ini membuat penjual dalam posisi tawar tinggi.Penjual memiliki kekuatan besar untuk mempermainkan harga. Karena karakteristik itu, harga daging (hewan kurban) saat Idul Adha dipastikan lebih mahal ketimbang menjelang atau saat Idul Fitri. Anehnya, meskipun harga melambung, pemerintah tak sibuk seperti menghadapi Idul Fitri. Saat Idul Fitri, kenaikan harga daging membuat pemerintah panik.Agar tidak berdampak besar pada inflasi, pemerintah menggelar operasi pasar, mengerahkan swasta dan sejumlah BUMN untuk mengguyur pasar dengan daging sapi. Bahkan, merelaksasi semua hambatan pemasukan sapi dari luar negeri. Mengapa itu dilakukan pemerintah? Barangkali penyebab utamanya adalah pembeli hewan kurban orang-orang mampu.Sebaliknya, menjelang dan saat Idul Fitri seolah-olah ada keharusan bagi semua keluarga, tidak terkecuali yang miskin, untuk menyediakan masakan berkomponen daging sapi. Apakah akan dibuat rendang, gulai, atau masakan lain. Dengan label ”makan daging sekali setahun” memaksa semua lapisan warga membeli daging sapi, tak terkecuali mereka yang berdaya beli rendah.

Bagikan

Jangan lewatkan

Tata ulang bisnis hewan kurban
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.