17/11/16

Job fair

SEBUAHinfo diperoleh bahwa di kota provinsi saja, katakan Padang, jumlah pencari kerja tahun 2015 sebanyak 13.000 orang lebih. Sementara lowongan yang tersedia sebanyak 1.100 jenis pekerjaan. Masalah yang sama juga terlihat di kota metropolitan,Jakarta. Sedikit saja info lowongan kerja dibuka, maka dalam hitungan haribanyak pencari kerja yang datang. Mereka antre untuk ikut serta dalam seleksi kerja, bahkan mirip ujian masukperguruan tinggi di Gelora Bung Karno, Senayan.Kenyataan itu memperlihatkan bahwa kota-kota  provinsi sekelas Padang, apalagi Kota Jakarta memang akan mengalami tekanan pasar kerja yang tinggi akibat urbanisasi. Jumlah lapangan kerja yang tersedia selalu akan lebih kecil daripada permintaan tenaga kerja.Syukur-syukur permintaan kualifikasi tenaga kerja yang diperlukan oleh dunia usaha dan atau pemerintahan tersedia di tingkat lokal. Jika saja jumlah dan kualifikasi tenaga kerja tidak tersedia, kendatipun lowongan pekerjaan ada, para pencari kerja yang sekarang ada tetap saja tidak akan mudah mendapatkan pekerjaan.Lowongan pekerjaan yang tersedia sedikit itu tentu yang secara formal diumumkan oleh perusahaan yang sedang membutuhkan tenaga kerja. Lowongan itu merupakan pekerjaan formal, dengan kompensasi upah yang tersedia. Namun, lowongan pekerjaan tidak saja yang formal dimintakan oleh dunia usaha. Banyak juga perusahaan merekrut tenaga kerja dengan sistem tertutup. Perusahaan seperti ini lazim dikenal menganutcrediantial system. Sistem yang diam-diam dibangun secara kekeluargaan dalam merekrut tenaga kerja.Job Fair Tidak Cukup Pertanyaan wartawan banyak yang dilontarkan seperti ini; bagaimana pandangan bapak denganjob fairyang dilakukan oleh pemerintah daerah?Penulis hampir tiap tahun telah memberikan masukan dan pandangan dalam menyikapi ini. Upaya mempertemukan pencari kerja dengan penyedia pekerjaan adalah sesuatu yang positif dan dapat dimainkan oleh dinas tenaga kerja setempat yang lebihintensif lagi.Di negara maju, proses pencarian pekerjaan dapat diajukan oleh pencari kerja dengan memasuki terlebih dahuluorganisasi buruh, karena organisasi buruh berupaya mengidentifikasi keperluan, perjanjian pekerjaan, dan penempatan. Namun di negara kita, organisasi buruh belum berfungsi untukmemperjuangkan hak-hak tenaga kerja berupa kesempatan berusaha, upah dan sejenisnya, mengingat organisasi buruh lebih berorientasi kepada kepentingan politik.Ada beberapa kesempatan besar di mana dalamjob fairini akan dapat terjalin berbagai sumber informasi yang sangat berguna. Akhir 2000-an, penulis pernah memberikan saran kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Barat ketika Gamawan Fauzi merintis sistem job fair  untuk Sumatera Barat. Kegiatanjob fairbisa dimanfaatkan untuk kepentingan identifikasi problem tentang ketenagakerjaan setempat. Ini perlu dilakukan mengingat data dan sumber informasi ketenagakerjaan masih terbatas tersedia.Sewaktu mereka melamar, dengan menyiapkan instrumen isian singkat maka para pencari kerja dapat mengisi form yang dapat nantinya diolah untuk menemukan dan mengenali apa karakter stok tenaga kerja. Di antaranya informasi tentang latar belakang pencari kerja, pekerjaan apa yang mereka cari, bagaimana keterampilan mereka, dan termasuksoft skillsyang mereka miliki.Data seperti ini akan mempermudah pemerintah setempat untuk menganalisis lanjutan, dan kemudian ada proses yang dilakukan oleh pemerintah daerah untuk membekali para pencari kerja dengan berbagai bentuk penyiapan antara. Maka dari proses tamatan sampai mendapat pekerjaan terencana sebuah proses yang menyebabkan pencari kerja memang semakin siap untuk dapat memasuki dunia kerja.

Bagikan

Jangan lewatkan

Job fair
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.