Abdul Mu’tiAbdul Mu’tiSekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dosen UIN Syarif Hidayatullah, JakartaSejak Reformasi 1998, Indonesia seperti tidak pernah lepas dari aksi demonstrasi. Tetapi, sejak 16 tahun silam belum pernah ada aksi demo yang perhatiannya melebihi rencana demo 4 November.Demo belum benar-benar terjadi. Tetapi, mengikuti pesan-pesan di media sosial, banyak pihak yang ketakutan. Jakarta sepertinya akan dipenuhi lautan manusia yang menuntut agar Basuki Tjahaja Purnama(Ahok), sang ”terdakwa” penistaan agama, dihukum seberat-beratnya.Sepertinya Jakarta akan rusuh karena isi undangan terbuka demo yang begitumenggetarkan. Setiap peserta aksi diimbau meninggalkan surat wasiat untuk keluarga, seakan mereka bersiap mati.Demo seakan perang suci demi tegaknya Kalam Ilahi. Walaupun mengatasnamakan perjuangan membela Islam, tidak semua muslim bersetuju. Semua umat Islam tentu terusik jika Islam dihina.Ini persoalan harga diri dan keyakinan. Tetapi, umat memiliki strategi yang berbeda dalam membela agamanya. Demo adalah salah satu cara di antara ribuan jalan yang lain.Unjuk KekuatanAksi demo Jumat, 4 November tentu bukanlah sebuah peperangan. Jika toh harus berperang, siapa lawannya? Apakah untuk melawan Ahok? Begitu hebatkah Ahok sehingga puluhan ribu orang harus dikerahkan dan berjuta rupiah harus dibayarkan? Ahok hanyalah seorang warga negara biasa.Jabatannya sebagai gubernur hanyalah”warisan” dari Joko Widodo yang terpilih sebagai presiden. Prestasinya sebagai gubernur DKI Jakarta juga biasa-biasa saja, tidak terlalu istimewa.Ahok tidak mewakili umat Kristiani danetnis Tionghoa. Ahok adalah rakyat biasa. Lalu, untuk apa demo itu? Kalau memang Ahok harus diproses secara hukum, bukankah dia sudah dilaporkan ke kepolisian?
Sumber : http://nasional.sindonews.com/read/1152349/18/demo-yang-islami-1478142318
