16/11/16

Kepemimpinan dan kemanajerial pembangunan

Candra Fajri Ananda. Foto/IstimewaCandra Fajri AnandaDekan dan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas BrawijayaDi setiap momen menjelang proses pemilihan umum (pemilu), hampir dapat dipastikan di semua negara/daerah akan berada pada situasi yang sangat mendidih. Proses demokrasi telah mendorong semakin banyak figur yang merasa berkompetenuntuk terjun ke konstelasi politik.Kita disuguhkan pada banyaknya pilihan calon pemimpin yang siap bertanding dengan keragaman gagasan dan latar belakang pemikiran. Sampai pada titik ini muncul pertanyaan sederhana, seberapa besar dampak kualitas kepemimpinan (leadership) seorang kepala pemerintahterhadap kualitas pembangunan di wilayahnya?Sebagai negara yang menganut sistem ekonomi Pancasila, peran negara sangat kuat dalam alokasi, distribusi dan stabilisasi sumber daya. Ini  membawa konsekuensi seorang pemimpin dalam proses pembangunantidak bisa disebutkan dalam level ekstrem seperti "sangat absolut" atau"sangat minor" tetapi berorientasi pada penciptaan kesejahteraan bagi masyarakat (welfare state). Karena pada konsep permulaannya, komposisi partisipasi pembangunan justru lebih besar diberikan kepada rakyat sebagai representasi prinsip demokrasi, dan seorang pemimpin negara justru hanya berfungsi sebagai stabilizer.Negara baru akan turun tangan ketika mekanisme pasar sudah dipandang tidak lagi efisien. Kegagalan mekanisme pasar biasanya muncul dari adanyaasymmetric informationyang dalam jangka waktu tertentu akanberdampak pada munculnya ketimpangan kesejahteraan, peningkatan kemiskinan, dan instabilitas sosial yang muaranya akan berujung pada rentetan konflik dan krisis politik.Pada tahapan inilah figur pemimpin layaknya seorang Satria Piningit sangatdiharapkan kehadirannya. Bahkan lebihidealnya, seorang pemimpin seharusnya sudah memiliki langkah mitigasi jauh sebelum potensi krisis muncul ke permukaan Bumi.Dengan harapan yang dicanangkan begitu tinggi, kita perlu berhati-hati dalam memilih seorang pemimpin. Karena bisa jadi apa yang ada di balik tubuh seorang pemimpin merupakan wajah pembangunan di masa depan.Dengan kuasa politiknya, seorang pemimpin bisa menggunakan sumber daya (resources allocated) untuk menentukan target-target pembangunannya. Opini yang baru sajaterlontar tentu masih dalam tataran pemikiran normatif.Dalam kondisi riilnya, ternyata ada jugaoknum pemimpin negara/daerah yang justru menggunakan kekuasaannya tidak berada di arah pembangunan yang seharusnya. Kejadian ini bukan hanya disebabkan faktor korupsi yang terlanjur semakin lama semakin menggurita di Indonesia, melainkan juga disebabkan karena pemimpin wilayahnya yang kurang andal dalam proses layanan kepemerintahan.Tahapan-tahapan pembangunan sebenarnya tidak jauh-jauh dari konsepsi ilmu manajemen dasar yang terdiri atas tahap Perencanaan (Planning), Pengorganisasian (Organizing), Pelaksanaan (Actuating), dan Pengawasan (Controlling) atau yang sering diakronimkan sebagai POAC. Prinsip manajemen sangat diperlukan untuk mengawasi dan memonitor aspek sosial, ekonomi, dan politik yang terjadi di wilayahnya.

Sumber : http://nasional.sindonews.com/read/1151716/18/kepemimpinan-dan-manajerial-pembangunan-1477958724

Bagikan

Jangan lewatkan

Kepemimpinan dan kemanajerial pembangunan
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.