17/11/16

Haji mabrur dan solidaritas sosial

Haji mabrur dan solidaritas sosial

MENJADIhaji mabrur yang jaminannyasurga adalah cita-cita utama "Para Tamu Allah" seluruh dunia di Mekkah pada Zulhijah ini. Rasulullah menyatakan: "Bagi orang yang hajinya mabrur, balasannya adalah surga". Dengan landasanstatementRasulullahitulah, setiap umat Islam termotivasi untuk menunaikan ibadah haji. Jutaan umat Islam dari seluruh dunia berbondong-bondong menuju Mekkah untuk satu tujuan: mengharap surga.Tapi, dari jutaan jamaah haji itu, seberapa banyak orang yang hajinya mabrur? Hanya Allah yang tahu. Alkisah, di sebuah dusun ada penjual sandal dari kayu. Orang ini sangat inginberangkat haji sehingga dia menabung sedikit demi sedikit dari hasil menjual sandalnya itu. Setelah menabung bertahun-tahun dan merasa bekalnya cukup ia segera menunaikan niatnya untuk berangkat haji. Namun, di tengahperjalanan dia melewati suatu desa yang terpapar wabah penyakit sehinggapenduduknya tidak bisa bekerja dan tidak ada makanan yang bisa disantap. Pedagang itu jatuh iba dan menyerahkan bekal hajinya untuk membantu penduduk desa itu. Karena bekalnya habis, ia pun pulang, tidak jadiberangkat haji.Di tempat lain, ada seorang ulama yangzuhud sedang beribadah dan berdoa kepada Allah. Dalam doanya ia bertanya kepada Allah:  "Ya Tuhanku? Dari sekian banyak orang yang berangkat haji tahun ini berapakah yang Engkau terima hajinya?"Lalu, Allah memberikan jawaban melalui Jibril: "Tidak satu pun." Jibril kemudian berbisik: Tetapi, Allah telah menerima haji seorang yang tidak berangkat haji. Si zahid terkejut:"Siapakah orang itu?" Lalu, Jibril menunjukkan ciri-ciri orang itu, di manaasalnya dan pekerjaannya apa.Ia pun segera mencari orang itu sesuai petunjuk Jibril. Ketika menemukan pedagang sandal itu, ulama zuhud tersebut  berkata: "Benar kamu seorangpedagang sandal?" Jawab pedagang sandal: "Benar." Si zahid berkata:"Benar,  kamu orangnya yang ingin berangkat haji, tetapi tidak jadi?" Pedagang sandal dengan sedih menjawab: "Benar."Ulama zuhud itu berkata: "Apa yang menyebabkan kamu urung berangkat haji?" Lantas pedagang sandal itu bercerita kenapa dia tidak jadi berangkat haji. "Saya tak jadi berangkatke Mekkah karena menyedekahkan bekal saya kepada  penduduk desa," katanya kepada ulama zuhud tadi. Si zahid kemudian berkata:"Berbahagialah kamu, sesungguhnya dari sekian banyak hamba yang berhaji tahun ini, Allah hanya menerima hajimu, haji mabrur saudaraku."Pedagang sandal itu heran: "Dari mana kamu tahu?" Si zahid berkata: "Jibril memberitahuku kala aku berdoa kepada Allah." Mendengar itu, kemudian bersujudlah si pedagang sandal tadi, lalu memuji Allah berkali-kali dan setelah itu ia semakin rajin bersedekah dan beribadah kepada Allah.Ada tiga pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah pedagang sandal yang hajinya mabrur tersebut.Pertama, berniat haji harus ikhlas semata-mata karena Allah. Dengan landasan ikhlas karena Allah itulah, calon haji tidak punya obsesi apa pun kecuali ingin"berjumpa" dengan Allah di Rumah-Nya. Maka, ketika dalam perjalanan calon haji menemukan suatu "ladang amal" yang nilainya amat tinggi di hadapan Allah -membantu masyarakat yang menderita karena wabah penyakit- pedagang sandal itu dengan ikhlas membantu mereka sampai bekalnya habis. Ia percaya Allah tahu niatnya. Dan, benar Allah mengetahui ketulusan niat pedagang sandal tersebut sehingga Allah menjadikan hajinya mabrur. Dengan landasan itu pula, haji adalah sebuah landasan takwa.Apa itu takwa? Secara tekstual, orang mengartikannya "takut kepada Allah". Tapi, esensi takwa lebih jauh dari sekadar takut. Takwa adalah sebuah sikap hidup yang selalu mengacu kepada Sunnatullah. Jagat bergerak dan berkembang menurut hukum-hukum Allah (Sunnatullah). Jika seseorang berbuat curang, esensinya telah melanggar Sunnatullah. Itu artinya orang itu melanggar hukum-hukum alam sehingga akan merusakuniverse. Seorang pedagang daging yang mengurangi timbangannya misalnya mungkin secara selintas kesalahannya sepele. Keuntungan akibat kecurangannya juga tidak seberapa. Tapi, secara esensial, jika ditautkan dengan pendistorsian hukumgravitasi, ia telah merusak hukum alamatau Sunnatullah yang sangat berbahaya. Pedagang daging tadi telah berlaku tidak adil. Ia merusak keseimbangan alam. Itulah sebabnya, Sayyidina Ali bin Abi Thalib menyatakan: Tegakkan keadilan meski bumi akan runtuh. Dengan demikian, esensi haji tersebut merupakan upaya menegakkan hukum-hukum alam.

Baca selengkapnya
Menakar pilkada jakarta

Menakar pilkada jakarta

”ALANGKAHmengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yanghanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.” Inilah kutipan budayawan Seno Gumira Ajidarma berjudul Menjadi Tua di Jakarta yang dipajang situs www.damniloveindonesia.com.Kutipan ini terasa menggelitik bagi sebagian besar masyarakat Jakarta, terlebih mendekati ajang pendaftaran calon gubernur Jakarta, 21 September 2016. Harapan warga Jakarta untuk Jakarta yang lebih baik sangat tinggi dan harapan itu diletakkan warga di pundak gubernurnya.Soal gubernur Jakarta, sejarawan JJ Rizal pernah mengutip isi buku karya Susan Blackburn, Jakarta 400 Tahun (1982) pada acara diskusi di sebuah stasiun TV. ”Soekarno telah memberi kado terakhir dan terbaik untuk Jakarta, bahkan Indonesia, namanya Ali Sadikin.”Para Bakal Calon GubernurPasca-Jokowi menjadi presiden dan menyerahkan tampuk kepemimpinan Jakarta pada wakilnya, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), konstelasi kepemimpinan Jakarta selalu hangat, bahkan terkadang panas. Berbagai kontroversi, program bagus, dan program tidak tepat yang dikeluarkan Ahok berperan dalam menjaga suhu politik di Jakarta.Ditambah lagi tindak tanduk dan ucapan Ahok yang meledak-ledak sering dianggap berbagai kalangan sebagai tidak santun pun berperan sama, bagai menjadi kipas penjaga arang suhu politik Ibu Kota. Penggusuran dan reklamasi pantai utara juga dianggap sebagian warga sebagai hal yang tidak pantas dilakukan Gubernur Ahok di Jakarta lantaran dianggap bertentangan dengan Jokowi semasa jadi gubernur Jakarta.Kondisi yang dimunculkan Ahok akhirnya memicu polemik di masyarakat untuk memiliki Jakarta yang lebih baik dari saat ini. Sejak saat itu muncullah para penantang Ahok di Jakarta yang walaupun menggunakan strategi berbeda, tapi kemungkinan besar tujuannya sama, menggantikan Ahok dan berusaha membuat Jakarta lebih baik. Berbagai nama yang dianggap mumpuni muncul ke gelanggang mencoba mengambil hati partai politik untuk bisa diusung sebagai calon gubernur Jakarta.Nama-nama tangguh seperti ahli tata kota Marco Kusumawijaya, ahli hukum Yusril Ihza Mahendra, aktivis media massa Teguh Santosa, Wali Kota Pangkal Pinang Muhammad Irwansyah,Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, pengusaha Sandiaga Uno, pemimpin BNN Budi Waseso, hingga mantan menteri Kabinet Kerja Rizal Ramli beredar di telinga warga sebagai penantang Ahok.Belakangan hanya beberapa nama yang dianggap kuat. Lembaga survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI) menyebut empat nama yang diyakini dapat menandingi keperkasaan Ahok di Jakarta. Nama-nama tersisa dijagokan untuk mengisi wakil gubernur Jakarta yang juga tidak kalah bergengsi.Survei yang mengambil responden warga Jakarta seperti dikutip dari www.kedaikopi.co menempatkan Tri Rismaharini di posisi teratas. Sebanyak70,5% responden yakin Risma mampu mengalahkan Ahok. Selanjutnya ada nama Rizal Ramli (34%), Sandiaga Uno (33%), dan Budi Waseso (19,5%). Dari empat nama tersebut yang paling menarik adalah nama Rizal Ramli. Bila Tri Rismaharini resmi tidak akan maju ke Jakarta, Rizal Ramli dianggap sebagai sosok terkuat penantang Ahok.

Baca selengkapnya
Idul qurban bersama keluarga teladan

Idul qurban bersama keluarga teladan

MERAYAKANIdul Adha atau Idul Kurban bukan sekadar melaksanakan salat id, lalu dilanjutkan dengan penyembelihan hewan kurban berikut pendistribusiannya kepada yang berhak. Idul Kurban itu sarat makna, kaya simbol sosial keagamaan, dan penuh dengan nilai-nilai historis.Aneka pesan simbolik dan pelajaran historis yang membingkai syariat kurban itu perlu diaktualisasikan dan dikontekstualisasikan dalam kehidupan modern. Memaknai Idul Kurban idealnya dilakukan dengan meneladani keluarga Nabi Ibrahim AS. Ibadah kurban ini bermula dari perintahAllah SWT kepada Ibrahim AS, melalui mimpi, untuk ”menyembelih” anak kesayangannya, Ismail AS.Peristiwa dramatis di lembah Mina yang sepi nan sunyi itu terjadi sekitar 1.800 tahun sebelum Masehi. Peristiwaini kemudian dinapaktilasi jamaah haji dengan melempar tiga tugu jumrah, sebagai simbolisasi sikap melawan dan mengusir setan yang selalu menggoda dan menyesatkan umat manusia. Karena itu, Idul Kurban perlu dimaknai dalam konteks menjadikan keluarga Ibrahim AS sebagai keluarga teladan. Mengapa keluarga Ibrahim AS patut dijadikan sebagairole model?Dalam buku Madrasah al-Anbiya’: Ibar wa Adhwa’ (Sekolah Para Nabi: Pelajaran dan Inspirasi) karya Muhammad Bassam Rusydi (2001) ditegaskan bahwa keluarga Ibrahim AS merupakan keluarga ideal dari segi mental spiritual, intelektual, sosial, moral, dan kultural yang patut diteladani. Sekurang-kurangnya ada enam pelajaran profetik (kenabian) yang penting dijadikan sebagai teladan dalam mendidik dan membahagiakan keluarga, terutama keluarga bangsa.Pertama,keluarga teladan Ibrahim AS itu dibangun di atas fondasi tauhid yang kuat. Ibrahim AS tidak saja berjasa melakukan gerakan reformasi tauhid, tapi juga gigih memperjuangkanagama yang hanif (lurus dan benar). Yakni agama yang steril dari aneka kemusyrikan seperti syirik politik yang dikembangkan Raja Namrud saat itu. Termasuk syirik sosial kultural yang dipertahankan oleh ayahnya sendiri maupun masyarakatnya yang menyembah berhala dan benda-benda langit.Alquran mengisahkan bahwa Ibrahim AS secara terbuka berani melakukan kritik terhadap orang tuanya yang dianggap sesat karena menuhankan berhalaberhala buatannya sendiri.”Ingatlah ketika Ibrahim mengkritik ayahnya, Azar: ”Pantaskah engkau menjadikan berhala- berhala sebagai tuhan? Sungguh menurutku, engkau dan masyarakatmu telah berada dalamkesesatan” (QS al-An’am [6]: 74).Selain melakukan kritik teologis kepada ayah dan masyarakatnya, Ibrahim AS juga secara terbuka mengkritisi teologi sesat sang penguasa. Ketika Raja Namrud dan pejabat-pejabat politiknya berpesta pora di luar Kota Babilonia (di Irak sekarang), secara diamd-iam dan penuh keberanian Ibrahim AS menghancurkan berhala-berhala di pusat pemujaan mereka. Beliau hanya membiarkan berhala terbesar tetap bertengger sambil dikalungi kapak yangtelah digunakan untuk menghancurkan berhala-berhala lainnya.Begitu mengetahui tuhan-tuhan merekaporak-poranda, para penguasa marah. Muka mereka merah padam dan menuduh Ibrahim sebagai pelaku utamanya. Ibrahim pun ”diamankan” dan ”dimintai keterangan” oleh rezim penguasa. ”Apakah kamu, hai Ibrahim, pelaku perusakan ini? Tanya mereka. Ibrahim pun menjawab secara logis:”(Bukankah) sebenarnya patung yang terbesar itu yang telah melakukannya. (Jangan tanya saya!) Tanyakanlah kepada berhala itu, siapa tahu mereka dapat memberimu keterangan!” (QS al- Anbiya’ [21]: 62-63).Rezim penguasa ternyata tak berkutik menghadapi logika tauhid Ibrahim yangsangat kokoh dan sulit didebat. Namun, karena kekejian sang penguasa yang takut kekuasaannya ditumbangkan, Ibrahim akhirnya harus menerima hukuman bakar hidup-hidup di atas api unggun. Kisah ini menarik karena ternyata ”api penguasa” tidak sedikit pun mampu ”membakar tubuh” Ibrahim yang penuh spirit tauhid.

Baca selengkapnya
Tata ulang bisnis hewan kurban

Tata ulang bisnis hewan kurban

IDULAdha baru saja berlalu. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kali ini tidak ada lagi berita kejadian manusia terinjak-injak dan terluka atau meninggal antre daging kurban. Manajemen kurban kian membaik.Namun, perbaikan itu belum menyentuh masalah dasar: bisnis hewan kurban. Bisnis hewan kurban amat menarik. Keuntungannya selangit.Karena itu, momentum Idul Adha setahun sekali selalu dinanti-nantikan banyak pihak: peternak (sapi/kerbau/ kambing/domba), belantik, pedagang perantara dan musiman. Galibnya dalam komoditas pangan, distribusi keuntungan bisnis hewan kurban tidak adil.Porsi keuntungan terbesar dinikmati pedagang (perantara dan musiman), belantik, dan penjagal, bukan peternak. Ini terkait mata rantai pasokan ternak yang panjang dari peternak ke konsumen sehingga transparansi harga, cara bayar, kualitas, dan risiko usaha tak diketahui peternak. Pendek kata, sistem distribusi hewan kurban masih jauh dari efisien.Ada tiga tujuan distribusi: memaksimalkan akses konsumen atas komoditas, mampu menyampaikan hasil-hasil dari produsen ke konsumen dengan biaya distribusi minimal, dan mengupayakan pembagian yang adil dari keseluruhan harga yang dibayarkan konsumen akhir kepada semua pihak yang terlibat kegiatan produksi dan distribusi barang sesuai peranan masing-masing.Sistem distribusi dinilai efisien dan efektif bila memenuhi tiga syarat itu. Inefisiensi dan inefektivitas dalam bisnis hewan kurban dipastikan jauh dari memadai. Ini semua tidak bisa dilepaskan dari karakteristik bisnis hewan kurban. Pertama, konsumen hewan kurban umumnya orang awam. Mereka tidak memiliki ”ilmu” menaksir berat badan dan karkas (daging) ternakhidup.Sebaliknya, ilmu taksirmenaksir menjadi makanan sehari- hari para penjagal, belantik, dan pedagang. Keawaman konsumen ini mudah di-”eksploitasi” oleh penjual. Bentuknyamacam-macam, yang paling sering tentu eksploitasi harga. Kedua, bisnis hewan kurban tidak mengenal hukumsupply demand. Penjual akan menawarkan harga hewan kurban setinggi- tingginya kepada pembeli.Penjual sadar para pembeli selain”awam”, mereka ”orang-orang mampu” dan berdaya beli tinggi. Hampir pasti konsumen membeli, tidak mungkin menangguhkan berkurban tahun depan.Jika harga tidak terjangkau, konsumen akan mengalihkannya kepada ternak yang lebih murah. Selain itu, transaksi jual-beli hewan kurban terjadi dalam kurun waktu pendek. Ini membuat penjual dalam posisi tawar tinggi.Penjual memiliki kekuatan besar untuk mempermainkan harga. Karena karakteristik itu, harga daging (hewan kurban) saat Idul Adha dipastikan lebih mahal ketimbang menjelang atau saat Idul Fitri. Anehnya, meskipun harga melambung, pemerintah tak sibuk seperti menghadapi Idul Fitri. Saat Idul Fitri, kenaikan harga daging membuat pemerintah panik.Agar tidak berdampak besar pada inflasi, pemerintah menggelar operasi pasar, mengerahkan swasta dan sejumlah BUMN untuk mengguyur pasar dengan daging sapi. Bahkan, merelaksasi semua hambatan pemasukan sapi dari luar negeri. Mengapa itu dilakukan pemerintah? Barangkali penyebab utamanya adalah pembeli hewan kurban orang-orang mampu.Sebaliknya, menjelang dan saat Idul Fitri seolah-olah ada keharusan bagi semua keluarga, tidak terkecuali yang miskin, untuk menyediakan masakan berkomponen daging sapi. Apakah akan dibuat rendang, gulai, atau masakan lain. Dengan label ”makan daging sekali setahun” memaksa semua lapisan warga membeli daging sapi, tak terkecuali mereka yang berdaya beli rendah.

Baca selengkapnya
Hukum persidangan melawan hukum alam

Hukum persidangan melawan hukum alam

JONATHANLevav dari Columbia University penasaran akan sebuah pertanyaan: Kapankah waktu terbaik bagi narapidana untuk mengajukan pembebasan bersyarat? Berdasarkan studinya, Levav menyimpulkan bahwa pagi hari dan pascarehat adalah waktu yang paling jitu. Penjelasan atas simpulan tersebut sangat sederhana, yaitu gula darah.Pagi hari (setelah sarapan) dan pascaistirahat, manusia memiliki pasokan gula darah pada kadar yang memadai. Dihubungkan ke hakim, gula darah menghasilkan energi bagi mereka untuk mencermati satu per satu berkas terkait permohonan pembebasan bersyarat yang diajukan masing-masing terpidana. Berdasarkancermatan itulah hakim percaya diri untuk mengabulkan permohonan terpidana.Selain waktu-waktu di atas, akibat kadar gula darah yang menurun, hakim tidak lagi cukup bertenaga untuk melakukan pengamatan dengan keseriusan setara. Akibat itu, daripada menjatuhkan putusan yang berisiko, sebagai langkah aman, hakim cenderung menolak permohonan pembebasan bersyarat narapidana.Studi Levav pada 2011 tersebut relevandengan persidangan untuk mengungkap penyebab tewasnya mendiang Mirna di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Sejak sesi persidangan menghadirkan saksi dan ahli dari pihak penasihat hukum, persidangan bahkan berlangsung hingga tengah malam.Kiranya tidak berlebihan untuk menyebut persidangan dengan terdakwa Jessica tersebut sebagai tantangan dahsyat terhadap kondisi manusia. Di tengah waktu kerja yang terbatas dan berbekal stamina manusia yang juga terbatas, para penegak hukum di ruang persidangan justru harus menyimak dan memproses berbagai informasi kompleks yang lalu-lalang dalam kuantitas besar. Itu semua berlangsungpada jam-jam ketika tuntutan tubuh untuk merehatkan diri sudah menjadi panggilan alam yang kodrati. Tambahan lagi, kasus tewasnya Mirna bukan satu-satunya berkas perkara yang harus ditangani baik oleh jaksa, penasihat hukum, maupun hakim pada periode waktu yang sama. Waktu dan tenaga para penegak hukum tersebut terbagi-bagi ke seluruh berkas yang menjadi tanggung jawab mereka.Tidak bisa dikesampingkan adalah tingginya perhatian publik terhadap jalannya persidangan. Liputan media massa juga menambah masif tekanan yang menyembur ke ruang persidangan.Beralasan untuk menduga kuat, kombinasi unsur-unsur di atas mendesak kesiapan fisik dan psikis seluruh pihak ke ambang yang sesungguhnya tidak lagi optimal bagi bekerjanya proses kognitif manusia. Dalam kondisi sedemikian rupa, sebagai bentuk adaptasi, otak manusianiscaya akan mencari cara kerja yang paling efisien. Persoalannya, efisiensi tidak serta-merta beriringan dengan akurasi. Sebaliknya, ketika efisiensi meninggi, akurasi justru menjadi tumbalnya. Manifestasinya misalnya kesulitan seluruh pihak untuk menerima rentetan informasi yang tidak linear. Padahal, sebagaimana fenomena lazim dalam dunia ilmu pengetahuan, data maupun teori bisa kontras satu sama lain. Akibat dari penolakan otak terhadap ihwal yang dianggap tidak sebangun tersebut, hakim kehilangan kesabarannya sehingga terlontarlah hardikan semisal,“Tidak ada ‘tapi’!”Hardikan itu dilakukan hakim guna memaksa ahli untuk melinearkan substansi paparannya yang sesungguhnya rumit. Ahli bisa saja jeri (takut) menerima bentakan hakim sehingga memutuskan untuk mengiyakan kehendak hakim. Sepintas,interaksi sedemikian rupa mempertontonkan “kewibawaan” hakim dalam mengatur jalan persidangan. Hakim seakan berhasil mendorong ahli untuk lebih fokus saat mengelaborasi pemikirannya. Padahal, alih-alih membuat persoalan lebih terang-benderang, penyederhanaan berlebihan tersebut membuat sekian banyak realitas keilmuan tertutupi dan itu mempertaruhkan simpulan akhir hakim sendiri.Begitu pula, seiring otak yang mencari mekanisme kerja paling efisien, energi yang menyusut drastis membuat kendali emosi bisa pupus. Perwujudannya antara lain adalah tindak-tanduk impulsif berupa tutur kata yang sejatinya tidak pantas meluncur dari meja para wakil Tuhan, “Kalau [racun] tidak masuk lewat mulut,memang[-nya bisa] lewat pantat?”

Baca selengkapnya
Sengkarut obat ilegal

Sengkarut obat ilegal

KORANSINDO, edisi Jumat 9 September 2016, mewartakan tentang sengkarut obat ilegal yang sudah berlangsung belasan tahun di negeri ini. Berbagai bukti dan pernyataan pengamat maupun pakar dikemukakan.Bukti-bukti dimaksud adalah ditemukannya 42,48 juta butir obat ilegal di Banten. Estimasi omzet dari peredaran obat ilegal di Indonesia mencapai USD200 juta.Persoalan kelembagaan, regulasi, dan penganggaran Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dinilai menjadi titik sentral per-masalahan dan mesti dibenahi. Tak kurang pentingnya, masalah penegakan hukum dipandang masih lemah sehingga berimbas pada tidak jeranya pelaku kejahatan perobatan. Mafia obat ilegal nyata adanya dan karena itu disarankan penegakan hukum harus dari hulu hingga hilir.Ketika kita menyadari bahwa kejahatanperobatan merupakan mafia, kejahatansistemik, lantas bagaimana mengurai benang kusut, merinci kesengkarutannya, serta mencari solusinya? Dari perspektif hukum progresif, ada beberapa agenda aksi yang dapat diprogramkan sebagai upaya pembenahan.Pertama,pembenahan sumber daya manusia. Peran manusia senantiasa penting karena manusia memiliki kekuatan hukum dahsyat untuk memobilisasikan hukum agar pesan-pesan moral tentang kejujuran, keadilan, kepastian, kemanfaatan, dan sebagainya dapat sampai pada sasaran.Hukum sebagai teks, semisal Perpres Nomor 103/2001 yang menjadi dasar keberadaan dan dasar bekerja BPOM, tidak akan dapat berfungsi efektif tanpa sentuhan manusia-manusianya. Kualitas dan karakter sumber daya manusia di BPOM amat menentukan keefektifan kerjanya.Kendati demikian, manusia dalam hukum progresif tidak sesempit itu. Dalam keutuhannya, dimaksud manusia meliputi: pembuat kebijakan, pemberi izin, pelaku usaha, distributor, pengecer, sampai pada masyarakat pengguna obat. Pendek kata, seluruh manusia, dari hulu sampai hilir yang terlibat atau berkepentingan dengan obat. Mereka itu, keseluruhannya, perludibenahi mentalitas dan moralitasnya.Tamanaha (2006) dalam Teori Cermin (Mirror Theory) menjelaskan bahwa hukum sebagai teks maupun perilaku sesungguhnya merupakan cermin belaka dari masyarakatnya. Ditarik ke sengkarut obat ilegal, masalah itu muncul karena perilaku masyarakat secara keseluruhan, bukan semata-mata manusia di BPOM.Dengan perasaan sedih, harus diakui bahwa masyarakat kita masih bermasalah. Masyarakat “bawah” gemar memilih obat murah karena keterbatasan daya beli. Kegemaran demikian disambut pengecer, distributor, dan produsen untuk memproduksi dan mendistribusikan obat ilegal yang harganya murah.Di lapangan terlihat nyata obat ilegal beredar luas ketika terjadi kongkalikong  oknum aparat dengan pelaku kejahatan. Pemberian “amplop“ cukup menjadi pembuka jalan distribusi yang lancar. Dapat diduga, di tingkat “atas”, kongkalikong  sejenis juga terjalin antara pembuat kebijakan, pemberi izin, dan pengawas dengan pelaku kejahatan perobatan.

Baca selengkapnya
Job fair

Job fair

SEBUAHinfo diperoleh bahwa di kota provinsi saja, katakan Padang, jumlah pencari kerja tahun 2015 sebanyak 13.000 orang lebih. Sementara lowongan yang tersedia sebanyak 1.100 jenis pekerjaan. Masalah yang sama juga terlihat di kota metropolitan,Jakarta. Sedikit saja info lowongan kerja dibuka, maka dalam hitungan haribanyak pencari kerja yang datang. Mereka antre untuk ikut serta dalam seleksi kerja, bahkan mirip ujian masukperguruan tinggi di Gelora Bung Karno, Senayan.Kenyataan itu memperlihatkan bahwa kota-kota  provinsi sekelas Padang, apalagi Kota Jakarta memang akan mengalami tekanan pasar kerja yang tinggi akibat urbanisasi. Jumlah lapangan kerja yang tersedia selalu akan lebih kecil daripada permintaan tenaga kerja.Syukur-syukur permintaan kualifikasi tenaga kerja yang diperlukan oleh dunia usaha dan atau pemerintahan tersedia di tingkat lokal. Jika saja jumlah dan kualifikasi tenaga kerja tidak tersedia, kendatipun lowongan pekerjaan ada, para pencari kerja yang sekarang ada tetap saja tidak akan mudah mendapatkan pekerjaan.Lowongan pekerjaan yang tersedia sedikit itu tentu yang secara formal diumumkan oleh perusahaan yang sedang membutuhkan tenaga kerja. Lowongan itu merupakan pekerjaan formal, dengan kompensasi upah yang tersedia. Namun, lowongan pekerjaan tidak saja yang formal dimintakan oleh dunia usaha. Banyak juga perusahaan merekrut tenaga kerja dengan sistem tertutup. Perusahaan seperti ini lazim dikenal menganutcrediantial system. Sistem yang diam-diam dibangun secara kekeluargaan dalam merekrut tenaga kerja.Job Fair Tidak Cukup Pertanyaan wartawan banyak yang dilontarkan seperti ini; bagaimana pandangan bapak denganjob fairyang dilakukan oleh pemerintah daerah?Penulis hampir tiap tahun telah memberikan masukan dan pandangan dalam menyikapi ini. Upaya mempertemukan pencari kerja dengan penyedia pekerjaan adalah sesuatu yang positif dan dapat dimainkan oleh dinas tenaga kerja setempat yang lebihintensif lagi.Di negara maju, proses pencarian pekerjaan dapat diajukan oleh pencari kerja dengan memasuki terlebih dahuluorganisasi buruh, karena organisasi buruh berupaya mengidentifikasi keperluan, perjanjian pekerjaan, dan penempatan. Namun di negara kita, organisasi buruh belum berfungsi untukmemperjuangkan hak-hak tenaga kerja berupa kesempatan berusaha, upah dan sejenisnya, mengingat organisasi buruh lebih berorientasi kepada kepentingan politik.Ada beberapa kesempatan besar di mana dalamjob fairini akan dapat terjalin berbagai sumber informasi yang sangat berguna. Akhir 2000-an, penulis pernah memberikan saran kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Barat ketika Gamawan Fauzi merintis sistem job fair  untuk Sumatera Barat. Kegiatanjob fairbisa dimanfaatkan untuk kepentingan identifikasi problem tentang ketenagakerjaan setempat. Ini perlu dilakukan mengingat data dan sumber informasi ketenagakerjaan masih terbatas tersedia.Sewaktu mereka melamar, dengan menyiapkan instrumen isian singkat maka para pencari kerja dapat mengisi form yang dapat nantinya diolah untuk menemukan dan mengenali apa karakter stok tenaga kerja. Di antaranya informasi tentang latar belakang pencari kerja, pekerjaan apa yang mereka cari, bagaimana keterampilan mereka, dan termasuksoft skillsyang mereka miliki.Data seperti ini akan mempermudah pemerintah setempat untuk menganalisis lanjutan, dan kemudian ada proses yang dilakukan oleh pemerintah daerah untuk membekali para pencari kerja dengan berbagai bentuk penyiapan antara. Maka dari proses tamatan sampai mendapat pekerjaan terencana sebuah proses yang menyebabkan pencari kerja memang semakin siap untuk dapat memasuki dunia kerja.

Baca selengkapnya