16/11/16

Aktualisasi nilai kepahlawanan

Ritus perayaan kepahlawanan dimaknai bukan sekadar penghargaan akan jasa dan pengorban pahlawan. Nilai kepahlawanan bersumber dari jiwa pengorbanan bagi tumpah darahnya. Ilustrasi/KORAN SINDOBenny Susetyo PRBudayawanSetiap tanggal 10 November bangsa Indonesia merayakan Hari Pahlawan yang selalu dikenang dan diwujudkan dalam perayaan upacara kebangsaan. Ritus perayaan kepahlawanan dimaknai bukan sekadar penghargaan akan jasa dan pengorban pahlawan.Nilai kepahlawanan bersumber dari jiwa pengorbanan bagi tumpah darahnya. Kepahlawanan tidak lepas dari jiwa pengorbanan yang secara simbolik dimaknai sebagai pemberian total jiwa raganya untuk bangsa dan negara. Kepahlawanan tidak bisa lepas dari nilai-nilai kecintaan kepada bangsanya. ”Pahlawan” adalah sebuah kata benda. Secara etimologi kata”pahlawan” berasal dari bahasa Sanskerta”phala”yang bermakna hasil atau buah.Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pahlawan berarti orang yangmenonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani. Pahlawan adalah seseorang yang berpahala yang perbuatannya berhasil bagi kepentingan orang banyak. Perbuatannya memiliki pengaruh terhadap tingkah laku orang lain, karena dinilai mulia dan bermanfaat bagi kepentingan masyarakat bangsa atau umat manusia.Dalam bahasa Inggris pahlawan disebut”hero”yang diberi arti satu sosok legendaris dalam mitologi yang dikaruniai kekuatan yang luar biasa, keberanian dan kemampuan, serta diakui sebagai keturunan dewa. Pahlawan adalah sosok yang selalu membela kebenaran dan membela keadilan.Aktualisasi kepahlawanan dalam konteks kekinian adalah membatinkan nilai Pancasila dalam sikap perilaku kehidupan berbangsa dan bernegara. Persoalan mendasar saat ini adalah hilangnya keutamaan cinta dalam diri pejabat publik, karena mereka tidak selesai dengan dirinya sendiri.Sebagai pemimpin mereka harus mampu keluar dari lingkaran kepedulian akan cinta diri. Pemimpin yang telah selesai dengan dirinya akan mampu mengaktualisasikan dirinya menjadi pribadi yang memberikan totalitas dalam pelayanan.Masalahnya, pejabat publik kita mengalami disorientasi ketika berkuasa. Kekuasaan semata-mata hanya mencari kepuasan diri dan memperkaya dirinya. Pejabat publik dengan mental seperti itu akan menjadi benalu negara.Beberapa kasus pejabat publik melakukan korupsi, menggunakan narkoba, hidup mewah dalam pesta-pora adalah cermin kusam dari kehilangan moralitas pejabat publik. Mereka tidak lagi setia kepada nilai-nilai keutamaan yang seharusnya menjadi acuan. Orientasi mereka semata-mata mencari kekuasaan. Inilah penyakit bangsa yang sudah terlalu parah.Penyakit ini memandang kekuasaan politik sebagai ”tuhan”’ atau ”agama”. Ketika ”agama kekuasaan” ini dibela sehidup semati, ia membuat orang lupadiri dan tidak sadar diri akan kendali kekuasaannya.

Sumber : http://nasional.sindonews.com/read/1154286/18/aktualisasi-nilai-kepahlawanan-1478760111

Bagikan

Jangan lewatkan

Aktualisasi nilai kepahlawanan
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.